ASN Dibunuh Istrinya di Halaman Masjid At-Taqwa, Keluarga Ungkap Fakta-Fakta Penting

BANDA ACEH – Kematian tragis Anton (32), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Inspektorat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang kehilangan nyawanya setelah ditikam oleh istrinya, Deka Ayu (30), telah memunculkan berbagai fakta yang mengejutkan dari keluarga korban. Insiden tersebut terjadi di halaman Masjid At-Taqwa Kayuagung dan meninggalkan banyak pertanyaan serta kesedihan di hati orang-orang terdekatnya.

Fakta-Fakta Menarik dari Keluarga Korban

Seiring dengan berkembangnya kasus penikaman ini, pihak keluarga Anton merasa perlu untuk mengungkapkan beberapa fakta yang lebih mendalam mengenai kondisi yang dialami Anton beberapa waktu sebelum kejadian tragis ini. Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang situasi yang menimpa almarhum.

Konsultasi Sebelum Kejadian

Kakak Anton, Andre (38), mengungkapkan bahwa dua hari sebelum tragedi, Anton mengunjungi penasihat hukum Aulia Aziz Al Haqqi untuk mendiskusikan rencana perceraian dan melaporkan dugaan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya. Andre menjelaskan, langkah ini diambil Anton sebagai upaya untuk melindungi dirinya dari situasi yang semakin memburuk.

“Dua hari sebelum insiden penusukan, itu adalah pertemuan terakhir saya dengan adik saya. Kami pergi ke penasihat hukum untuk berkonsultasi mengenai KDRT yang dialaminya dan proses perceraian yang akan diambil,” ungkap Andre saat ditemui di kediamannya.

Rincian KDRT yang Dialami Korban

Pengakuan Andre menambah dimensi baru dalam kasus kematian Anton. Hanya berselang dua hari setelah konsultasi tersebut, Anton ditemukan tewas akibat tikaman istrinya di halaman masjid.

Menurut Andre, Anton telah mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik dari Deka. Salah satu bukti yang ia sebutkan adalah luka memar di bagian paha akibat pukulan dengan benda tumpul, termasuk helm.

Tekanan Finansial dan Tuntutan Nafkah

Selain masalah KDRT, Andre juga menjelaskan bahwa Anton menghadapi tekanan finansial yang cukup berat setelah mereka tinggal terpisah. Saat mediasi di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Deka mengajukan tuntutan nafkah sebesar Rp9 juta per bulan untuk kebutuhan anak kedua mereka yang baru berusia tujuh bulan.

Tuntutan tersebut dianggap jauh di luar kemampuan Anton sebagai seorang ASN. “Pelaku meminta uang bulanan sebesar Rp9 juta untuk kebutuhan anak kami. Korban merasa keberatan karena gajinya tidak mencukupi. Apalagi saat itu dia sudah tidak memiliki uang,” jelas Andre.

Meskipun begitu, Anton berusaha keras untuk memenuhi kewajibannya dengan mengajukan pinjaman melalui aplikasi pinjaman online. Pada Agustus 2026, ia bahkan mentransfer uang sebesar Rp11 juta kepada Deka.

Hubungan yang Buruk dengan Keluarga

Keluarga Anton juga menjelaskan bahwa hubungan Deka dengan keluarga besar Anton tidak terjalin dengan baik. Deka jarang berinteraksi saat tinggal bersama di SP Padang dan tidak hadir dalam acara-acara penting, termasuk saat ayah Anton meninggal dunia.

“Ketika keluarga berkumpul di depan rumah, Deka sering mengirim pesan agar adik saya cepat masuk ke rumah,” tambah Andre, menekankan ketidaknyamanan yang terjadi dalam hubungan mereka.

Isu Kesehatan Anak yang Diberitakan

Dalam kesempatan itu, Andre juga ingin meluruskan isu yang beredar mengenai kesehatan anak-anak Anton. Keluarga membantah kabar yang menyatakan bahwa penikaman disebabkan oleh penolakan biaya pengobatan anak yang sedang sakit. Menurutnya, kedua anak Anton dalam keadaan sehat.

Terkait luka pada anak kedua yang berusia tujuh bulan saat kejadian, Andre menjelaskan bahwa luka itu disebabkan oleh pisau saat insiden penikaman berlangsung.

Harapan Keluarga untuk Proses Hukum

Saat ini, keluarga Anton menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak kepolisian dan berharap agar kasus ini dapat diusut tuntas. Mereka ingin agar semua fakta dan bukti diperiksa secara mendalam, termasuk kemungkinan adanya unsur perencanaan dalam insiden ini.

“Kami berharap pihak kepolisian dapat mengungkap kasus ini, apakah ada unsur perencanaan atau keterlibatan orang lain,” ungkap Andre, menekankan pentingnya keadilan bagi almarhum dan keluarganya.

Keluarga Anton kini hanya bisa berharap agar proses hukum berjalan secara transparan dan profesional. Mereka merindukan sosok Anton, yang baru setahun dilantik sebagai ASN, dan merasa bahwa penderitaan yang dialaminya sejak awal pernikahan menjadi luka yang sulit untuk dilupakan.

Dengan harapan dan doa, keluarga Anton menantikan kejelasan dari pihak berwajib terkait kasus tragis ini.

Exit mobile version