Wako Payakumbuh Resmikan Program PETANI BERDASI dan GraNILA JARWO untuk Pemberdayaan Petani

Pemberdayaan petani menjadi salah satu fokus utama dalam mengatasi tantangan pangan di Indonesia, terutama dalam situasi gejolak harga yang sering kali tidak terduga. Di tengah dinamika ini, Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, memperkenalkan dua program inovatif: PETANI BERDASI (Petani Bersama Pemerintah Daerah Mengendalikan Inflasi) dan GraNILA JARWO. Peluncuran kedua program ini berlangsung pada Jumat, 11 September 2026, di Balaikota Payakumbuh, sebagai langkah konkret untuk meningkatkan ketahanan pangan dan produktivitas pertanian di kota tersebut.

Inisiatif PETANI BERDASI dan GraNILA JARWO

Program PETANI BERDASI diluncurkan bersamaan dengan penguatan inisiatif GraNILA JARWO, yang dikenal sebagai program Gratis Benih Berlabel dengan Sistem Penanaman Jajar Legowo. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hasil pertanian, khususnya produksi padi di Payakumbuh. Melalui peluncuran ini, diharapkan para petani dapat memaksimalkan potensi lahan yang ada untuk menghasilkan pangan yang berkualitas.

Peluncuran inovasi ini dilakukan dalam suasana apel bersama, di mana Zulmaeta juga mengawali aksi penanaman bawang merah di halaman Kantor Wali Kota Payakumbuh. Langkah ini menandai komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pertanian urban atau urban farming.

Merespons Gejolak Harga Pangan

Zulmaeta menjelaskan bahwa program PETANI BERDASI adalah respons nyata dari pemerintah daerah terhadap fluktuasi harga pangan, terutama untuk komoditas bawang merah yang sering kali berkontribusi pada inflasi akibat ketergantungan pada pasokan dari luar daerah. Dalam upaya ini, sebanyak 2.300 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemko Payakumbuh akan bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen mandiri, atau yang sering disebut prosumer.

“Inovasi ini bukan sekadar gerakan menanam, melainkan juga sebuah upaya untuk membangun kesadaran bahwa pengendalian inflasi adalah tanggung jawab kita semua,” ungkap Zulmaeta. Setiap ASN menerima satu polybag media tanam dan dua benih siap tanam (BST) bawang merah varietas unggul. Mereka diharapkan dapat merawat tanaman tersebut di pekarangan kantor masing-masing.

Pembelajaran Melalui Praktik Langsung

Keberadaan tanaman bawang merah di lingkungan perkantoran pemerintah diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat. Zulmaeta menekankan pentingnya pengalaman langsung bagi ASN dalam memahami proses produksi pangan. Dengan demikian, ketika masyarakat berkunjung untuk mengurus administrasi, mereka dapat menyaksikan langsung bahwa ASN turut serta dalam kegiatan pertanian.

“ASN akan belajar bahwa setiap pangan yang dikonsumsi memerlukan proses, perawatan, dan kerja keras. Dengan adanya contoh nyata, diharapkan masyarakat akan lebih termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan pertanian,” jelasnya.

Zulmaeta berharap bahwa gerakan ini akan memicu efek domino yang positif, yang akan menjangkau rumah-rumah ASN, lingkungan sekitar, hingga masyarakat luas, sehingga terbangun budaya ketahanan pangan yang kuat di Payakumbuh.

Peran Kepala Perangkat Daerah

Dalam upaya memastikan keberlanjutan program, kepala perangkat daerah juga diminta untuk mengawasi dan mengintegrasikan agenda perawatan tanaman dalam apel pagi rutin. Mereka diharapkan dapat mendokumentasikan perkembangan tanaman sebagai bagian dari pemantauan dan evaluasi program.

Integrasi dengan GraNILA JARWO

Kepala Dinas Pertanian Kota Payakumbuh, Nila Misna, mengungkapkan bahwa program PETANI BERDASI ini diintegrasikan dengan GraNILA JARWO sebagai langkah intervensi pertanian untuk meningkatkan produksi padi pada Tahun Anggaran 2026. Program ini menyasar lahan Kerangka Sampel Area (KSA) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dengan target luas 250 hektare.

“Kami akan menyediakan benih unggul bersertifikat sebanyak 25 kg per hektar, seperti varietas Junjuang, Cilalek, dan Batang Piaman, serta bantuan pupuk kompos (DKOMPOS) untuk memperbaiki kualitas tanah,” jelas Nila. Selain itu, program ini juga akan memberikan bantuan upah tanam untuk meringankan beban biaya tenaga kerja petani.

Kepatuhan Terhadap Teknologi Budidaya

Keberhasilan GraNILA JARWO sangat bergantung pada kepatuhan petani terhadap teknis budidaya yang telah ditetapkan. Pengolahan lahan dan persemaian harus dilakukan dengan optimal dan penanaman bibit muda yang berumur 15 hingga 21 hari setelah semai harus mengikuti pola tanam yang tepat. Hal ini meliputi kepadatan satu hingga dua batang per lubang tanam.

Pola penanaman yang diterapkan adalah Jajar Legowo 2-1 atau 4-1, yang bertujuan untuk mendukung sirkulasi udara, pencahayaan, dan pemeliharaan tanaman secara optimal. Seluruh proses akan diawasi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bersama tim Monitoring dan Evaluasi untuk memastikan bahwa setiap langkah berjalan dengan baik.

Dengan peluncuran kedua program ini, diharapkan Payakumbuh dapat menjadi contoh nyata dalam penguatan ketahanan pangan melalui pemberdayaan petani lokal. Inisiatif ini tidak hanya akan memberikan dampak positif bagi produksi pangan, tetapi juga berkontribusi dalam mengatasi masalah inflasi yang sering mengganggu perekonomian masyarakat.

Exit mobile version