Optimasi Pembelajaran di SDN Bunisari: Menanti Perbaikan Atap yang Rapuh

Bayangkan sekolah dasar di mana suara derasnya hujan yang menampar atap bukanlah latar belakang yang menenangkan, tetapi sebaliknya, sumber kecemasan yang konstan. Inilah kenyataan yang dihadapi oleh siswa dan staf di SDN Bunisari, sebuah sekolah di Desa Luyubakti, Kecamatan Puspahiyang, Kabupaten Tasikmalaya. Saat hujan turun, air merembes masuk melalui lubang-lubang di atap dan plafon, mengganggu proses belajar dan menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan anak-anak. Dalam upaya untuk optimasi pembelajaran di SDN Bunisari, perbaikan mendesak diperlukan.
Kondisi Sekolah yang Memprihatinkan
SDN Bunisari, yang telah berdiri selama lebih dari dua dekade, kini berjuang dengan berbagai kerusakan struktural. Genteng dan asbes runtuh, plafon berlubang, dan beberapa dinding dan kusen jendela sudah rusak. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan belajar, tetapi juga menimbulkan kecemasan yang serius tentang keselamatan siswa. Kepala SDN Bunisari, Suparjo, mengakui bahwa kondisi ini sangat mengkhawatirkan, terutama saat hujan turun deras.
“Ketika hujan, saya merasa sangat khawatir. Air merembes ke dalam kelas melalui lubang-lubang di dinding, kusen, dan plafon. Anak-anak benar-benar menderita,” ujar Suparjo.
Ruang Kelas yang Tidak Layak
Menurut Suparjo, ada tiga ruang kelas dan satu ruang kepala sekolah yang kondisinya sudah tidak layak pakai. Ketika hujan deras, kekhawatiran akan keselamatan anak-anak menjadi semakin nyata. “Kami takut ada sesuatu yang berbahaya terjadi pada anak-anak,” ungkapnya.
Laporan dan Tindak Lanjut yang Ditunda
Selama bertahun-tahun, pihak sekolah telah mencoba menarik perhatian pihak terkait tentang kondisi bangunan. Sekitar empat tahun yang lalu, tim dari instansi yang bertanggung jawab atas pembangunan datang untuk mendata kondisi sekolah. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjut.
Harapan untuk Dukungan Teknologi
Di samping perbaikan bangunan, sekolah juga membutuhkan dukungan dalam hal teknologi. Suparjo menuturkan bahwa sekolah yang dipimpinnya baru saja menerima satu unit laptop. Namun, perangkat teknologi lain seperti Chromebook yang telah diterima oleh beberapa sekolah lain, hingga saat ini belum pernah diterima oleh SDN Bunisari.
Permohonan Bantuan
Suparjo berharap pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, dapat meninjau langsung kondisi sekolah dan mempertimbangkan untuk memberikan bantuan rehabilitasi bangunan. Dengan demikian, proses belajar mengajar dapat berlangsung dalam lingkungan yang aman dan nyaman.
“Kami berharap pemerintah dapat datang dan melihat langsung kondisi sekolah kami, dan mempertimbangkan untuk memberikan bantuan rehabilitasi ruang kelas dan ruang kepala sekolah,” pungkasnya.