Menganalisis Sinyal “Rogue Actors” dan Potensi Kudeta di Balik Sabotase Seragam

Peristiwa penyiraman air keras terhadap aktivis hak asasi manusia, Andrie Yunus, telah melampaui batasan tindakan kriminal individu. Kasus ini kini bertransformasi menjadi bagian dari krisis yang lebih mendalam: krisis kepercayaan terhadap institusi, legitimasi politik yang meragukan, serta indikasi adanya dinamika tersembunyi dalam struktur kekuasaan negara.
Dinamika Keterlibatan Oknum Militer
Ketika Mabes TNI mengonfirmasi keterlibatan empat anggota dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, yaitu Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES, publik segera merespons dengan cepat. Di dunia digital, terutama di platform X, sentimen negatif terhadap institusi militer melonjak secara drastis. Tagar #AndrieYunus dan #IndonesiaGelap bukan hanya sekadar reaksi spontan, melainkan merupakan cerminan dari akumulasi kecurigaan masyarakat terhadap netralitas aparat negara.
Di sinilah kompleksitas isu ini muncul. Dalam konteks politik Indonesia saat ini, setiap insiden yang melibatkan aparat tidak bisa dipisahkan dari relasi kekuasaan yang lebih luas. Setiap peristiwa selalu dibaca dalam konteks siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan.
Munculnya Nama Prabowo Subianto
Nama Prabowo Subianto, dengan latar belakang militernya dan rekam jejak yang panjang dalam isu keamanan, secara otomatis menjadi sorotan publik. Namun, di sinilah letak paradoksnya: apakah seorang presiden akan mengambil risiko legitimasi kekuasaannya dengan melakukan tindakan brutal yang pasti akan terungkap dan berpotensi memicu tekanan internasional? Secara analitis, jawabannya cenderung negatif.
Rogue Actors dan Dinamika Internal
Dalam studi intelijen dan keamanan modern, terdapat konsep yang relevan untuk memahami fenomena ini: rogue actors. Istilah ini merujuk pada individu atau kelompok dalam institusi resmi, seperti militer, intelijen, atau aparat negara, yang bertindak di luar kendali struktur komando yang formal. Motivasinya bervariasi, mulai dari ambisi pribadi hingga loyalitas terhadap faksi tertentu, atau hubungan dengan kekuatan politik tertentu.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Dalam banyak studi komparatif, rogue actors seringkali berperan sebagai instrumen dalam operasi destabilisasi politik. Mereka beroperasi di wilayah abu-abu; cukup dekat dengan negara untuk mendapatkan akses dan legitimasi, tetapi juga cukup jauh untuk memberikan ruang plausible deniability bagi kekuasaan resmi.
Pola Merusak Legitimasi Pemerintah
Jika kita menggunakan kerangka ini, keterlibatan oknum TNI dalam kasus Andrie Yunus tidak bisa dipandang hanya sebagai pelanggaran disiplin militer. Kasus ini berpotensi menjadi bagian dari pola yang lebih luas, yakni upaya sistematis untuk merusak legitimasi pemerintah dari dalam.
Respons cepat dari Presiden Prabowo yang memerintahkan Kapolri untuk menyelidiki dan menangkap pelaku dapat diartikan sebagai indikator kesadaran terhadap potensi ancaman tersebut. Dalam perspektif intelijen, langkah ini sering muncul ketika seorang pemimpin negara mencium adanya operasi non-linear yang mengarah pada penciptaan kekacauan terkelola.
Kudeta Merayap: Ancaman yang Nyata
Di sinilah relevansi konsep kudeta merayap (creeping coup) menjadi penting. Berbeda dengan kudeta klasik yang menggunakan kekuatan militer secara terbuka, kudeta merayap beroperasi melalui erosi bertahap terhadap legitimasi pemerintah. Instrumennya bukanlah tank dan senjata, melainkan krisis kepercayaan, skandal, dan instabilitas sosial.
Target utama dari kudeta ini bukanlah istana secara fisik, tetapi persepsi publik. Serangan terhadap aktivis HAM, jika terkait dengan keterlibatan aparat, menciptakan efek berlapis: delegitimasi institusi militer, tekanan internasional, serta penurunan kepercayaan terhadap presiden. Dalam konteks global, perhatian dari organisasi seperti PBB dan jaringan advokasi HAM internasional dapat memperbesar tekanan diplomatik terhadap Indonesia.
Efek Multiplikatif terhadap Stabilitas Politik
Dengan demikian, satu peristiwa dapat menghasilkan efek multiplikatif yang signifikan terhadap stabilitas politik nasional. Pertanyaan penting kemudian muncul: siapa yang diuntungkan dari situasi ini?
Dalam analisis intelijen, prinsip klasik cui bono (siapa yang diuntungkan) tetap menjadi alat analisis utama. Jika suatu peristiwa secara konsisten melemahkan posisi presiden, merusak citra institusi negara, dan meningkatkan ketidakpercayaan publik, maka besar kemungkinan terdapat aktor yang secara strategis memanfaatkan atau bahkan merekayasa situasi tersebut.
Pengkhianatan dari Dalam
Lebih lanjut, pernyataan Presiden Prabowo dalam beberapa kesempatan mengenai adanya “pengkhianatan dari dalam” seharusnya dibaca sebagai sinyal politik. Namun, sinyal tanpa tindakan korektif berisiko menjadi retorika kosong. Dalam sejarah kekuasaan, banyak rezim runtuh bukan karena tekanan eksternal, melainkan karena kegagalan dalam mengendalikan fragmentasi internal.
Ironisnya, ruang kompromi politik yang terlalu luas sering kali menjadi pintu masuk bagi infiltrasi kepentingan yang tidak sejalan dengan stabilitas pemerintahan. Kasus Andrie Yunus, dengan demikian, bukan sekadar ujian hukum, tetapi juga ujian kepemimpinan dan ketahanan institusional. Ini menuntut keberanian untuk melakukan pembersihan internal, penguatan rantai komando, dan penegasan kembali prinsip netralitas aparat.
Kemungkinan Skenario Kudeta Merayap
Tanpa langkah tegas, skenario kudeta merayap bukan lagi sekadar konsep teoritis, melainkan kemungkinan nyata yang perlahan-lahan bekerja di balik permukaan. Dalam politik, kekuasaan jarang runtuh karena serangan frontal. Sebaliknya, ia lebih sering rapuh karena dibiarkan terkikis sedikit demi sedikit oleh mereka yang berada dekat dengannya.
Dengan latar belakang ini, penting bagi para pemimpin dan institusi untuk menyadari betapa pentingnya menjaga integritas dan legitimasi mereka. Tindakan proaktif dan strategi yang bijaksana akan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman dari rogue actors dan mencegah terjadinya kudeta merayap yang dapat meruntuhkan stabilitas negara.