
Mataram – Dalam upaya membangun kesadaran kolektif yang kuat, Ikatan Mahasiswa Bima Mataram (IMBI Mataram) mengambil langkah tegas dengan meminta perhatian lebih dari pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terhadap Kabupaten Bima. Mereka merasa bahwa kabupaten ini seringkali terabaikan dan tidak mendapatkan perhatian yang semestinya.
Pentingnya Suara Masyarakat Kabupaten Bima
Aksi yang dilakukan oleh IMBI Mataram merupakan bentuk ekspresi dari kegelisahan yang telah lama menghantui masyarakat Kabupaten Bima. Dalam konteks ini, mereka berupaya untuk mengangkat isu-isu yang selama ini terpinggirkan.
“Kedatangan kami bukanlah kebetulan, tetapi merupakan hasil dari kesadaran kolektif yang tidak bisa lagi dibungkam. Kami menyaksikan secara langsung bagaimana Kabupaten Bima terus berada di tepi perhatian, seolah-olah bukan bagian integral dari Provinsi NTB,” ungkap salah satu anggota IMBI Mataram.
Menagih Janji yang Belum Terealisasi
Lebih lanjut, IMBI Mataram menjelaskan bahwa mereka tidak meminta hal-hal yang rumit atau berlebihan. Mereka hanya ingin menuntut pemenuhan janji-janji yang sebelumnya telah diucapkan oleh pemerintah. Mereka mengharapkan agar hak-hak mereka sebagai warga negara dapat dipenuhi.
“Kami tidak menuntut hal yang muluk-muluk. Yang kami inginkan hanyalah agar apa yang menjadi mandat konstitusi, yaitu keadilan, pemerataan, dan tanggung jawab pemerintah, dapat dijalankan. Jika hal ini diabaikan, lalu untuk siapa sebenarnya kekuasaan ini dijalankan?” tambah mereka dengan tegas.
Kondisi Infrastruktur dan Kesejahteraan Masyarakat
IMBI Mataram juga mengungkapkan bahwa infrastruktur bukanlah sekadar proyek pembangunan, melainkan merupakan nadi kehidupan ekonomi masyarakat. Sayangnya, mereka menyaksikan ketimpangan, kelambanan, dan janji-janji yang terus diulang tanpa adanya realisasi.
- Ketidakmerataan pembangunan
- Kurangnya perhatian terhadap sektor pariwisata
- Infrastruktur yang tidak memadai
- Janji politik yang tidak ditepati
- Keterbatasan akses terhadap layanan dasar
Paradoks Slogan NTB Mendunia
Lebih jauh, IMBI Mataram menyoroti bahwa slogan “NTB mendunia” hanya terdengar megah di pentas-pentas resmi, tetapi terasa hampa di tengah kenyataan yang dihadapi masyarakat. Bagaimana mungkin membicarakan ambisi global, sementara warga di daerah masih berjuang dengan keterbatasan yang mendasar?
Ambisi besar yang diusung oleh pemerintah tidak diiringi dengan tindakan nyata di lapangan. Ini bukan sekadar masalah kekurangan, tetapi juga menunjukkan ketidakmampuan dan ketidakseriusan dalam mengelola amanah yang diberikan oleh rakyat.
Konsistensi dalam Suara Perjuangan
“Oleh karena itu, kami memilih untuk tidak hanya diam. Kami akan terus berdiri, bersuara, dan mengingatkan. Jalanan bukanlah pilihan pertama kami, tetapi ketika ruang-ruang formal kehilangan keberpihakan, maka parlemen jalanan menjadi suara yang tidak bisa diabaikan,” tegas mereka.
Komitmen IMBI Mataram dalam Menegakkan Keadilan
IMBI Mataram menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan keadilan dan menyampaikan kegalauan masyarakat. Mereka bertekad untuk senantiasa berada di garis depan dalam mengawal kepentingan rakyat.
“Kami akan tetap berdiri ketika keadilan diabaikan, ketika ketimpangan dibiarkan, dan ketika pemerintah lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya. Ini bukan sekadar pernyataan. Ini adalah peringatan yang harus didengar,” pungkas mereka dengan penuh keyakinan.




